"Prahara PKS dalam Bait-bait Lagu"
Prahara PKS dalam Bait-bait Lagu
By: Nandang Burhanudin
***
Setelah NU-MUhammadiyah disibukkan dengan perbedaan 1 Ramadhan dan 1
Syawwal setiap tahun, maka kekuatan-kekuatan Islam di luar kedua ormas
besar tersebut dikebiri satu per-satu. Tuduhan demi tuduhan
bertubi-tubi, seakan tak kenal henti. FPI dikebiri sedemikian rupa oleh
barisan JIL-Sekuler-Liberal agar dibubarkan. Setelah sebelumnya MMI,
JAT, dibonsai hingga persiapan penerapan Syariat di beberapa kota yang
marak tahun 2000, namun 13 tahun kemudian meregang nyawa; lenyap tak
berbekas.
Kini PKS dapat giliran, ibarat lagu; kalangan Islamphobia bahu membahu
mengerahkan berbagai amunisi, mulai dari ekstrim kiri hingga ekstrim
kanan. Ujung-ujungnya sama:
Berharap PKS terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.
Tenggelam dalam lautan luka dalam
PKS tersesat dan tak tahu arah jalan berjuang
PKS jika bisa ditinggalkan kadernya
Karena PKS tanpa kader tak ubahnya butiran debu
Itu dari ekstrim kiri. Mau tidak mau, suka tidak suka, rekayasa dari
rekayasa kasus LHI hingga kasus 45 wanitanya AF lebih heboh dari kasus
korupsinya, siapapun yang masih mau sedikit terbuka tidak akan bisa
memejamkan mata bahwa rasa konspirasinya terlalu pekat.
Belum lagi dari ekstrim kanan. Walau istilah ini saya kurang setuju
menggunakannya. Dimana aib yang melanda PKS seakan hujan berkah bagi
beberapa kalangan, yang entah mengapa sedemikian bahagianya mereka,
hingga lupa dengan slogan Syariat yang menjadi rahmat dan khilafah yang
menyatukan umat. Bukannya bahu membahu, namun malah ibarat lagu:
PKS berlari sang pembenci terdiam. PKS menangis sang pembenci tersenyum.
PKS berduka sang pembenci bahagia. PKS pergi sang pembenci kembali. PKS
coba meraih mimpi, sang pembenci coba ‘tuk hentikan mimpi. Seakan
keduanya takkan menyatu.
Saat berharap PKS menjadi butiran debu, justru kader-kader PKS terhenyak
dan bangkit. Kader-kader yang tadinya terasuki virus 5 L, berubah
tampil hangat dengan 5 S. Karena bagi kader-kader PKS, berpartai itu
bagian dari dakwah. Cinta utamnya adalah dakwah. Besarnya cinta itulah
ibarat lagu:
Demi cintaku pada dakwah
Kemanapun kau kan ku bawa
Walaupun harus kutelan lautan bara
Demi cintaku pada dakwah
Ke gurun ku ikut denganmu
Biarpun harus berkorban jiwa dan raga
(remark "Cinta Kita" Amy Search & Inka Christie)
Kader-kader PKS siap melakukan lebih dari itu. Ibarat kata, jika dakwah itu adalah istri, maka kader-kader PKS siap berbulan madu di awan biru.
Tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya berdua
Nyanyikan lagu cinta
Walau seribu duka
Kita takkan terpisah
Lekatnya cinta kader-kader PKS terhadap Indonesia, karena spirit juang
para kader yang tak pernah berhenti untuk bekerja, mencipta harmnoni.
Hal ini sudah menjadi komitmen bahwa kader-kader PKS siap menjadi
HARAPAN INDONESIA. Oleh karena itu, kader-kader PKS sama sekali tidak
membenci KPK. Malah sejak awal mendukung pemberantasan korupsi. Yang
dibenci adalah ketidakadilan dan pengadilan jahat. Namun bagi
kader-kader PKS, kejahatan tidak akan dibalas kejahatan. Persis seperti
lagu:
Tatap tegaklah masa depan
Tersenyumlah tuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa
Bersama membangun Indonesia
Jadi, apapun yang terjadi terhadap pimpinan PKS, yaitu Ust. LHI,
kader-kader PKS menganggapnya hanya sandiwara para mafia untuk menutupi
kebusukan mereka. JB bagi kader PKS seperti lagu:
Aku tahu ini semua tak adil
Aku tahu ini sudah terjadi
Mau bilang apa aku pun tak sanggup
Air mata pun tak lagi mau menetes
Alasannya seringkali ku dengar
Alasannya seringkali kau ucap
Kau dengannya seakan ku tak tahu
Sandiwara apa yang telah kau lakukan kepadaku
Singkat kata, para konspirator paham, jika kader-kader PKS yang dibully,
dijamin tidak akan ada chaos, demo besar-besaran, ataupun bom meletup
dimana-mana. Karena para konspirator paham, kader-kader PKS seperti
nasyid Shotul Harakah:
Pegang teguhlah kebenaran
Buang jauh nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga
Untuk tegaknya keadilan
Kader-kader PKS sadar, umat Islam diposisikan sebagai domba-domba yang
siap diadukan satu sama lain. Hanya umat seringkali tak sadar. Persis
seperti lagu Bung Haji Rhoma Irama dalam lirik lagu berikut:
Adu domba adu domba mengadu domba
Domba dipertaruhkan
Adu domba adu domba mengadu domba
Domba dipertaruhkan
Demi keuntungan domba jadi korban
(Diadu domba)
Demi kesenangan domba kesakitan
(Diadu domba)
Adu domba adu domba mengadu domba
Domba dipertaruhkan
Adu domba adu domba mengadu domba
Domba dipertaruhkan
Sayang-sayang seribu kali
Domba-domba tak menyadari
Kasihan aduhai kasihan
Domba-domba pun bermusuhan
Hentikanlah hentikan itu kedhaliman
Janganlah dan janganlah kau mengadu domba
Sudah ah, nanti ada yang bilang, ustadz kok gak pake dalil Al-Qur'an dan Sunnah!




Tidak ada komentar