Tadabbur Ayat بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا
(Usman Jakfar)
Tadabbur Ayat
بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا
Allah SWT berfirman di dalam surah Hud ayat 41-42
وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ
Dan (ketika itu) berkatalah Nabi Nuh (kepada pengikut-pengikutnya yang beriman): "Naiklah kamu ke bahtera itu sambil berkata: 'Dengan nama Allah bergerak lajunya dan berhentinya'. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani."(Mereka semua naik) dan bahtera itupun bergerak laju membawa mereka dalam ombak yang seperti gunung.
Kata مَجْرَاهَا di dalam ayat ini menurut ilmu tajwid di baca secara imaalah (tidak di baca fathah dan tidak juga dibaca kasroh, tetapi dibaca antara keduanya -- majreha --).
Menurut ulama bahasa Arab, bacaan seperti ini bukan tidak ada korelasi
antaranya dengan kondisi real saat kapal Nabi Nuh AS berlayar. Saat
kapal Nabi Nuh AS ini berlayar di lautan lepas, mengharungi gelombang
laut yang sangat luar biasa tingginya (di dalam ayat itu sendiri
disebutkan ombak yang setinggi gunung) tetapi tetap saja tidak
membahayakan kapal tersebut, bahkan bacaan imaalah pada kata مجراها menunjukkan betapa indahnya pelayaran tersebut.
Ulama bahasa mengatakan: jika kata مجراها
dibaca dengan fathah, maka itu menunjukkan bahwa kapal tersebut
dilemparkan setinggi-tingginya oleh ombak yang setinggi gunung tadi, dan
jika dibaca kasroh, maka menunjukkan kapal tersebut ditenggelamkan oleh
ombak yang setinggi gunung itu juga. Tetapi jika dibaca dengan imaalah
menunjukkan kapal itu berlayar ikut tinggi rendahnya gelombang laut,
saat gelombang itu turun kapal ikut turun, saat gelombang itu tinggi
kapal tersebut juga ikut tinggi, dan begitulah seterusnya, sampai
akhirnya kapal tersebut berlabuh dengan selamat.
Ini kesemuanya adalah berkat rahmat Allah SWT sebagaimana yang
disebutkan pada sambungan ayat tersebut. Padahal jika Allah mau
menenggelamkan kapal tersebut, maka tidak ada seorangpun yang bisa
menolongnya. Allah berfirman di dalam surah Yasin:
وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (41) وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (42) وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ (43) إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (44
"Dan satu dalil lagi untuk mereka (insaf) ialah, Kami membawa belayar
jenis keluarga mereka dalam bahtera yang penuh sarat; Dan Kami ciptakan
untuk mereka, jenis-jenis kenderaan yang sama dengannya, yang mereka
dapat mengenderainya. Dan jika kami kehendaki, kami boleh tenggelamkan
mereka; (kiranya Kami lakukan yang demikian) maka tidak ada yang dapat
memberi pertolongan kepada mereka, dan mereka juga tidak dapat
diselamatkan, Kecuali dengan kemurahan dari pihak Kami memberi rahmat
dan kesenangan hidup kepada mereka hingga ke suatu masa."
Sekali lagi, selamatnya kapal Nabi Nuh ini juga karena semata rahmat Allah SWT.
Jika dihubungkaitkan cerita pelayaran kapal Nabi Nuh AS ini dengan
Jamaah Dakwah, maka boleh jadi Jamaah dakwah ini juga mungkin akan
menghadapi badai, sebagaimana badai yang dihadapi oleh kapal Nabi Nuh AS
saat berlayar. Jika pelayaran kapal tersebut begitu indahnya dijelaskan
oleh Allah SWT melalui bacaan Imaalah, maka harapan kita juga semoga
saat jamaah dakwah ini menghadapi badai, juga bisa berlayar mengharungi
badai yang setinggi gunung tadi dan pada akhirnya bisa selamat sampai ke
tujuan. Hanya perlu diingat orang-orang yang berada di dalam kapal
tersebut mestilah senantiasa menjaga hubungannya dengan Allah SWT,
sehingga Rahmat Allah SWT bisa didapatkan. []
Malaysia, 1 April 2013




Tidak ada komentar